Di sebuah desa terpencil, hidup seorang pemecah batu bersama istri dan satu orang anaknya. Keluarga tersebut hidup sejahtera walaupun dengan kondisi ekonomi yang cukup rendah.
Pemecah batu itu sangat giat menjalani kehiduannya yang cukup keras. Setiap pagi ia harus mendaki gunung untuk mendapatkan bongkahan batu dan kemudian memecahnya. Siangnya ia beristirahat untuk makan siang dan sholat dhuhur. Sore harinya ia berjalan menuruni gunung dengan memikul kepingan-kepingan batu kecil hasil jerih payah keringatnya.
Kegiatan itu ia lakukan setiap hari. Hingga suatu ketika, saat ia hendak bergegas pulang, dari atas gunung ia melihat kerumunan orang di bawah, bediri di pinggir jalan seolah membuat pagar betis.